Twitter
LinkedIn
YouTube
Facebook

Thin Client Pada Linux Ubuntu

ThinClient-01

Thin client, yang terkadang juga disebut slim client adalah sebuah komputer atau program komputer yang bergantung sepenuhnya pada komputer lain (server) agar bisa menjalankan sistem komputasinya dalam sistem jaringan komputer yang ada. Hal ini berbeda dengan sistem jaringan yang umum yang sering dikenal dengan sebutan fat client yang sistem komputasinya ada pada komputer itu sendiri dan terhubung ke komputer lain (server) bila ingin mengakses data tertentu yang ada di server. Thin client banyak digunakan di perpustakaan, untuk melihat katalog buku dan lain sebagainya. Thin client juga banyak digunakan di sekolah-sekolah. Tidak sedikit juga digunakan di perkantoran.

Thin client juga sering disebut dengan diskless workstation karena agar komputer (workstation) bisa terhubung ke server tanpa menggunakan hard disk. Keuntungan thin client (diskless node/disklesss workstation) adalah bisa mengurangi biaya dan pemeliharaannya pun mudah, karena tidak diperlukan komputer berspesifikasi tinggi, dan bahkan juga bisa tanpa hard disk. Spesifikasi yang tinggi hanya dibutuhkan untuk komputer servernya saja. Komputer user/client (pengguna) bisa menggunakan tipe-tipe komputer spesifikasi rendah, bahkan bisa tanpa hard disk, yang terpenting memiliki kartu jaringan (LAN Card) yang baik. Spesifikasi yang tinggi hanya diperlukan pada komputer servernya saja, untuk melayani komputer user/client. Semakin banyak komputer user/client yang terhubung ke server, semakin tinggi pula spesifikasi komputer servernya. Diperlukan 2 kartu jaringan (LAN Card) pada komputer server, karena salah satunya diperlukan untuk terhubung ke internet, misalnya lewat modem atau ke sistem jaringan kantor yang terhubung ke internet, sedangkan 1 lagi untuk terhubung ke komputer user/client misalnya lewat switch hub.

Pengelolaan thin client pun mudah karena tidak dibutuhkan instalasi sistem operasi pada komputer user/client. Sistem operasi hanya perlu diinstall di komputer server saja, dan mensetting alamat (mac address) dari kartu jaringan (LAN Card) yang ada di komputer pengguna (user/client). Bayangkanlah bagaimana lelahnya kita bila harus menginstal sistem operasi pada misalnya 10, 20, 50 atau 100 komputer yang ada untuk terhubung ke server. :)

Sistem operasi Linux adalah sebuah lingkungan sistem operasi yang bagus untuk mengembangkan sistem diskless atau thin client. Dengan menggunakan Linux, bahkan tidak diperlukan biaya lisensi. Bayangkan bila harus menggunakan Citrix yang biayanya sangat mahal. Lingkungan Linux juga aman tanpa virus. Thin client menggunakan sistem operasi Linux sering kali disebut dengan Linux Terminal Server Project (LTSP). LTSP didukung oleh banyak komunitas, karena sudah ada sejak tahun 1999, jadi karena banyak dukungan dari komunitas, membuat kita tidak terlalu khawatir bila ada masalah dalam menggunakan LTSP. Di artikel ini, sistem operasi Linux yang digunakan adalah distribusi (disto) Ubuntu. Saya menggunakan Ubuntu Alternate 12.04 untuk instalasi servernya. Sekarang kita ikuti proses instalasi dan setting-setting yang harus dilakukan agar thin client berhasil atau Linux Terminal Server Project (LTSP) bisa berjalan dengan baik. :)

1. Dapatkan CD/DVD Ubuntu Precise Pangolin maupun file iso-nya dengan mendownload di situs resmi Ubuntu di http://www.ubuntu.com atau bisa juga memesan file iso-nya pada kami lewat email di bosimanurung@gmail.com.

2. Setelah mendapatkan CD/DVD Ubuntu ataupun membakar file iso-nya ke CD/DVD, masukkanlah CD/DVD Ubuntu ke dalam optical drive komputer Anda, restartlah komputer Anda sampai muncul tampilan pilihan bahasa instalasi. Instalasi ini menggunakan Ubuntu Alternate 32 bit. Pilih bahasa instalasi yang dapat Anda pahami. Dalam hal ini kita pilih bahasa Inggris, tekan enter.

Install_UbAlt12-04_Di_VBox-01

3. Pada tampilan berikutnya, ada pilihan Install Ubuntu. Sebelum memilih Install Ubuntu dengan menekan tombol enter, kita melihat di bawah ada pilih tombol F4 Modes.
Install_UbAlt12-04_Di_VBox-02

4. Kalau kita tekan tombol F4 maka muncul tampilan seperti di bawah ini, di baris pertama adalah Normal, dan di baris terakhir adalah Install an LTSP server. Hal ini dikarenakan saya menginstall Ubuntu menggunakan CD/DVD Ubuntu Alternate, yang selain bisa untuk menginstall Ubuntu Desktop (Modes Normal/baris pertama), tetapi juga bisa untuk menginstall Ubuntu LSTP server (LTSP=Linux Terminal Server Project) seperti software Citryx yang berbayar (license). Kita pilih Install an LTSP server, lalu tekan tombol enter.
Install_UbAlt12-04_Di_VBox-03

Install_UbAlt12-04_Di_VBox-03-tekan_F4_lalu_pilih_install_an_LTSP_server

5. Setelah itu, barulah kita memilih Install Ubuntu, lalu tekan enter.
Install_UbAlt12-04_Di_VBox-04-Kemudian_Pilih_Install_Ubuntu_dan_tekan_enter

6. Setelah itu kita akan diminta sekali lagi untuk memilih bahasa yang akan digunakan untuk proses instalasi selanjutnya. Pilih bahasa yang kita pahami dan klik Continue.
Install_UbAlt12-04_Di_VBox-06

7. Lalu pilih negara atau wilayah tempat tinggal kita, kita pilih other.
Install_UbAlt12-04_Di_VBox-06

8. Kemudian pilih benua tempat negara kita berada, kita pilih Asia.
Install_UbAlt12-04_Di_VBox-07

9. Lalu pilih negara atau wilayah tempat tinggal kita, kita pilih Indonesia.
Install_UbAlt12-04_Di_VBox-08

10. Kemudian pilih Singapore untuk negara sebagai base default locale settings, karena waktu disana mirip dengan di waktu Indonesia.
Install_UbAlt12-04_Di_VBox-08

11. Pada pilihan ‘Detect keyboard layout?’, pilih ‘No’ saja dengan menekan tombol Tab untuk menggerakan ke arah pilihan kita.
Install_UbAlt12-04_Di_VBox-08

12. Pilih English (US) untuk jenis keyboard kita.
Install_UbAlt12-04_Di_VBox-08

13. Pilih English (US) untuk keyboard layout.
Install_UbAlt12-04_Di_VBox-08

Kemudian ada proses berjalan. Bila ada pernyataan pada configure the network, bahwa Network Autoconfiguration failed, tekan enter saja (continue). Bila ada tampilan berikutnya untuk memilih ‘Network configuration method:’, pilihlah ‘Do not configure the network at this time’, karena kita akan men-settingnya setelah selesai instalasi.

14. Kemudian masukkan hostname atau nama computer Anda. Sebagai contoh ‘ubAlt12-04′.
Install_UbAlt12-04_Di_VBox-17

15. Lalu masukkan nama Anda, yang akan muncul saat login (di server).
Install_UbAlt12-04_Di_VBox-18

16. Lalu nama account Anda. Isi saja dengan nama depan Anda.
Install_UbAlt12-04_Di_VBox-19

17. Masukkan password yang ingin Anda gunakan.
Install_UbAlt12-04_Di_VBox-20

18. Input kembali password Anda untuk konfirmasi.
Install_UbAlt12-04_Di_VBox-21

19. Pada pilihan Folder home Anda ingin dienkripsi atau tidak, pilih saja ‘No’.
Install_UbAlt12-04_Di_VBox-22

20. Pada Configure the clock pilih ‘Yes’.
Install_UbAlt12-04_Di_VBox-23

21. Sampailah kita pada bagian yang membutuhkan kehati-hatian yaitu partition disk. Pilih Manual.
Install_UbAlt12-04_Di_VBox-25

22. Muncul partisi-partisi yang ada dan yang kosong. Pilih yang free space, atau pilih SCSI bila hard disknya belum ada datanya sama sekali (kosong).
Install_UbAlt12-04_Di_VBox-26

23. Kemudian ketika ada pertanyaan ‘Create new empty partition table on this device?’, pilh ‘Yes’. Pertanyaan ini muncul bila hard disk yang digunakan, belum ada datanya sama sekali (kosong).
Install_UbAlt12-04_Di_VBox-27

24. Lalu pilih yang free space.
Install_UbAlt12-04_Di_VBox-28

25. Lalu pilih create a new partition.
Install_UbAlt12-04_Di_VBox-29

26. Masukkan kapasitas yang akan kita gunakan. Contohnya 21.4 GB.
Install_UbAlt12-04_Di_VBox-30

27. Pilih type partisinya. Pada contoh, kita pilih Primary.
Install_UbAlt12-04_Di_VBox-31

28. Lokasi partisi kita pilih di awal (Beginning).
Install_UbAlt12-04_Di_VBox-32

29. Kemudian pada tampilan dengan judul ‘Partition disks’, pada ‘use as’ pilih ext4 (tekan enter terlebih dahulu, lalu pilih ext4 dan tekan enter). Pada Mount point pilih ‘/’ (tekan enter terlebih dahulu, lalu pilih ‘/ – the root file system’ lalu tekan tekan enter). Ini adalah partisi tempat menyimpan file-file system. Lalu gerakkan kursor ke baris paling bawah, pilih ‘Done setting up the partition’, lalu tekan enter.
Install_UbAlt12-04_Di_VBox-33

30. Kemudian akan terlihat partisi yang kita buat tadi.
Install_UbAlt12-04_Di_VBox-34

31. Lalu pilih yang free space. Kita akan membuat partisi /home, tempat menyimpan data. Lalu pilih create a new partition.
Install_UbAlt12-04_Di_VBox-35

32. Masukkan kapasitas yang akan kita gunakan. Contohnya 11.0 GB.
Install_UbAlt12-04_Di_VBox-36

33. Pilih type partisinya. Pada contoh, kita pilih Primary.
Install_UbAlt12-04_Di_VBox-37

34. Lokasi partisi kita pilih di awal (Beginning).
Install_UbAlt12-04_Di_VBox-38

35. Kemudian pada tampilan dengan judul ‘Partition disks’, pada ‘use as’ pilih ext4 (tekan enter terlebih dahulu, lalu pilih ext4 dan tekan enter). Pada Mount point pilih ‘/home’ (tekan enter terlebih dahulu, lalu pilih ‘/home – user home directories’ lalu tekan tekan enter). Ini adalah partisi tempat data-data user. Lalu gerakkan kursor ke baris paling bawah, pilih ‘Done setting up the partition’, lalu tekan enter.
Install_UbAlt12-04_Di_VBox-39

36. Kemudian akan terlihat partisi-partisi yang kita buat tadi.
Install_UbAlt12-04_Di_VBox-40

37. Lalu pilih yang free space. Kita akan membuat partisi swap, tempat memory tambahan dengan menggunakan sebagian hard disk kita. Kita pilih create a new partition.
Install_UbAlt12-04_Di_VBox-41

38. Masukkan kapasitas yang akan kita gunakan, idealnya adalah 2 kali besar kapasitas memory kita, tapi itu bukanlah suatu patokan yang baku. Contohnya kita buat kapasitasnya 2.0 GB.
Install_UbAlt12-04_Di_VBox-42

39. Pilih type partisinya. Pada contoh, kita pilih Primary.
Install_UbAlt12-04_Di_VBox-43

40. Lokasi partisi kita pilih di awal (Beginning).
Install_UbAlt12-04_Di_VBox-38

41. Kemudian pada tampilan dengan judul ‘Partition disks’, pada ‘use as’ pilih swap area (tekan enter terlebih dahulu, lalu pilih swap area dan tekan enter).
Install_UbAlt12-04_Di_VBox-44

Install_UbAlt12-04_Di_VBox-45

42. Lalu gerakkan kursor ke baris paling bawah, pilih ‘Done setting up the partition’, lalu tekan enter.
Install_UbAlt12-04_Di_VBox-46

43. Setelah selesai mempartisi hard disk, pilih Finish partitioning and write changes to disk. Dan setelah itu, pada tampilan yang menanyakan ‘Write Changes to disks?’, kita pilih ‘Yes’ dan tekan tombol Enter.
Install_UbAlt12-04_Di_VBox-47

Install_UbAlt12-04_Di_VBox-48

44. Setelah ada suatau proses yang berjalan cukup lama, kemudian muncul tampilan dengan judul ‘Configure the package manager’ yang meminta informasi tentang HTTP Proxy. Kita kosongkan saja dengan menekan tombol enter. Kemudian biarkan proses instalasi terus berjalan.
Install_UbAlt12-04_Di_VBox-50

45. Setelah ada suatau proses yang berjalan cukup lama, kemudian muncul tampilan dengan judul ‘Install the GRUB boot loader on a hard disk’, yang menanyakan apakah kita menginstal GRUB boot loader ke dalam hard disk. Ini adalah untuk membuat menu pilihan bila ada beberapa sistem operasi di dalam hard tersebut. Kita jawab ya, dengan memilih ‘yes’, lalu tekan tombol enter.
Install_UbAlt12-04_Di_VBox-54

46. Kemudian muncul tampilan dengan judul ‘Finish the Installation’, yang menanyakan apakah sistem waktu akan diatur sesuai waktu universal terkoordinasi (UTC atau Coordinated Universal Time) atau sering juga disebut Waktu Greenwich (GMT). Kita pilih ‘yes’, kemudian tekan tombol enter.
Install_UbAlt12-04_Di_VBox-55

47. Sampailah kita pada tampilan yang memberitahukan bahwa proses isnstalasi telah selesai/komplit. :) Optical drive akan terbuka dan kita bisa mengeluarkan CD/DVD instalasi. Lalu tekan enter untuk melanjutkan (Continue), sekaligus akan merestart komputer.
Install_UbAlt12-04_Di_VBox-56

48. Setelah proses restart komputer, akan muncul GRUB yang berisi daftar sistem operasi yang ada di dalam hard disk. Pilihlah sistem operasi Ubuntu yang baru saja kita install tadi, biasanya pada baris yang paling atas.
IMG_20150825_103626edit

49. Kemudian tibalah di tampilan awal dari Ubuntu yang kita install tadi, dimana kita harus memasukkan password dari akun user yang kita buat tadi.
Install_UbAlt12-04_Di_VBox-57-stlah-restart

50. Bila berhasil memasukkan password yang benar, kita dibawa ke dalam tampilan desktop Ubuntu.
Install_UbAlt12-04_Di_VBox-58-stlah-login

51. Kemudian kita akan melakukan beberapa konfigurasi terhadap beberapa file agar LTSP server dapat berjalan dengan baik. Kita akan mengedit file interfaces yang ada di folder /etc/network dengan menggunakan sebuah editor yang bernama nano. Mula-mula bukalah aplikasi Terminal. Setelah itu ketiklah perintah:
• cd /etc/network (enter)
• sudo nano interfaces (enter)
masukkan passwordnya diikuti tombol enter.
sudo-nano-interfaces-02

52. Isilah file tersebut dengan perintah-perintah seperti tampilan di bawah ini, dimana IP server dibuat menjadi 192.168.0.1 terhadap logical name LAN Card yaitu eth1, dalam hal ini hardwarenya dalam CPU saya adalah PCI LAN Card, bukan yang onboard. LAN card yang onboard digunakan untuk jalur internet, mendapat DHCP IP dari modem, atau DHCP jaringan kantor (Local Area Network). Setelah selesai simpan file dan sekaligus tutup editor nano setelah menekan tombol Ctrl-x (tombol ‘Ctrl’ dan tombol ‘x’), serta diikuti menekan tombol ‘y’ untuk konfirmasi.
isi-interfaces-01

53. Kemudian kita akan mengedit file isc-dhcp-server yang ada di folder /etc/default untuk menentukan logical name LAN card mana yang akan digunakan, eth0 atau eth1. Pada Terminal ketiklah perintah:
• cd /etc/default (enter)
• sudo nano isc-dhcp-server (enter)
masukkanlah passwordnya bila diminta.
sudo-isc-dhcp-server-01

54. Pada baris bagian paling bawah, isilah INTERFACES yang digunakan, dalam hal ini eth1, karena seperti penjelasan sebelumnya, logical name LAN Card yang digunakan adalah eth1, dalam hal ini hardwarenya dalam CPU saya adalah PCI LAN Card, bukan yang onboard. Lewat jalur inilah DHCP akan diberikan kepada semua komputer (thin client) yang terhubung ke switch/hub. LAN card yang onboard digunakan untuk jalur internet, mendapat IP DHCP dari modem. Setelah selesai diedit filenya, simpan file dan sekaligus tutup editor nano setelah menekan tombol Ctrl-x (tombol ‘Ctrl’ dan tombol ‘x’), serta diikuti menekan tombol ‘y’ untuk konfirmasi.
sudo-isc-dhcp-server-02

55. Kemudian test/cek dengan merestart DHCP servernya, apakah sudah berhasil sehingga muncul pesan start/running seperti tampilan di bawah ini. Perintah untuk testing atau memastikannya adalah, ‘sudo service isc-dhcp-server restart’ tanpa tanda kutip. Jika belum berhasil, coba restart komputer dan kemudian ulangi perintahnya kembali.
service-isc-dhcp-server-01

56. Setelah itu kita akan mengedit file dhcpd.conf di folder /etc/ltsp. Dari Terminal ketiklan perintah ‘cd /etc/ltsp’ tanpa tanda petik. Kemudian bukalah file dhcpd.conf menggunakan editor nano.
nano-dhcp-conf-01

57. Di file ini kita akan menentukan batas awal dan akhir IP DHCP (IP Dinamis) yang akan diberikan kepada komputer-komputer user (thin client), dalam hal ini kita menentukannya dari 192.168.0.20 sampai dengan 192.168.0.50 saja. Di file ini, kita akan mencatat MAC Address yang dimiliki komputer user, serta sekaligus menentukan IP yang akan diterima. Setelah selesai diedit filenya, simpan file dan sekaligus tutup editor nano setelah menekan tombol Ctrl-x (tombol ‘Ctrl’ dan tombol ‘x’), serta diikuti menekan tombol ‘y’ untuk konfirmasi.
isi-file-etc-ltsp-dhcp-conf-01

58. Kini kita akan mensetting file konfigurasi untuk tampilan ke monitor, port untuk printer dan lain-lain. Nama file-nya adalah lts.conf yang ada di folder /var/lib/tftpboot/ltsp/i386. Pada Terminal ketiklah perintah:
• cd /var/lib/tftpboot/ltsp/i386 (enter)
• sudo nano lts.conf (enter)
masukkanlah passwordnya bila diminta.
ke-folder-filenya-lts-conf-01

59. Kini kita akan mensetting file konfigurasi untuk tampilan yang mana filenya juga ada berisi MAC Address di komputer user seperti yang disetting di file dhcpd.conf yang ada di folder /etc/ltsp. Bila file lts.conf belum ada, maka kita akan membuat file baru. Dari Terminal ketiklan perintah ‘cd /var/lib/tftpboot/ltsp/i386.’ tanpa tanda petik. Kemudian bukalah file lts.conf menggunakan editor nano. Isilah file tersebut dengan tampilan seperti di bawah ini. Setelah selesai, simpanlah file tersebut dan sekaligus tutup editor nano setelah menekan tombol Ctrl-x (tombol ‘Ctrl’ dan tombol ‘x’), serta diikuti menekan tombol ‘y’ untuk konfirmasi.
isi-lts-conf-01

60. Setelah selesai mensetting file-file konfigurasi yang diperlukan, kini waktunya kita mengupdate perubahan yang telah kita buat tadi sebelum kita merestart komputer. Pada Terminal ketiklah perintah-perintah berikut:

• sudo service isc-dhcp-server restart (enter)
restart-isc-dhcp-server-01

• sudo ltsp-update-sshkeys (enter)
ltsp-update-sshkeys

• sudo ltsp-update-image (enter)
ltsp-update-image-01

• sudo service nbd-server restart (enter)
nbd

61. Sekarang restart komputer, dengan perintah ‘reboot’ tanpa tanda kutip, diikuti dengan menekan tombol enter.
reboot

62. Setelah komputer server direstart, nyalakanlah komputer user/client untuk memastikan apakah thin clientnya sudah berhasil. Bila komputer user/client memiliki LAN card onboard, pastikan itu disetting di BIOS dibuat menjadi Enable dan juga Boot ROMnya dibuat menjadi Enable pula, sehingga kita bisa boot atau akses ke server lewat LAN card ada di komputer user/client. Bila berhasil, tampilan yang muncul di komputer user/client akan terlihat seperti tampilan di bawah ini untuk login.
IMG_20150824_163108edit2

63. Bila username dan password diisi dengan benar, maka akan tampil desktop, persis seperti seolah-olah kita sedang bekerja di komputer server.
Install_UbAlt12-04_Di_VBox-58-stlah-login

64. Jika ingin keluar dari desktop, klik di pojok kanan atas, lalu pilih Log Out, dan kita akan kembali ke tampilan login. Bila ingin menshutdown atau merestart komputer, klik di pojok kiri bawah.
IMG_20150824_170630edit2

Selamat mencoba!


Leave a Reply